_ap_ufes{"success":true,"siteUrl":"ilmumanajemenindustri.com","urls":{"Home":"http://ilmumanajemenindustri.com","Category":"http://ilmumanajemenindustri.com/category/dasar-dasar-manajemen/","Archive":"http://ilmumanajemenindustri.com/2017/12/","Post":"http://ilmumanajemenindustri.com/3-tingkatan-manajemen-fungsi-fungsinya/","Page":"http://ilmumanajemenindustri.com/daftar-isi-ilmu-manajemen-industri/","Attachment":"http://ilmumanajemenindustri.com/3-tingkatan-manajemen-fungsi-fungsinya/tingkatan-manajemen/","Nav_menu_item":"http://ilmumanajemenindustri.com/446/","Insertpostads":"http://ilmumanajemenindustri.com/insertpostads/native-ads/"}}_ap_ufee

Pengertian ROE (Return on Equity) dan Rumus ROE

Pengertian ROE dan Rumus ROE

Pengertian ROE (Return on Equity) dan Rumus ROEReturn on Equity Ratio yang biasanya disingkat dengan ROE adalah rasio profitabilitas yang mengukur kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dari investasi pemegang saham di perusahaan tersebut. Dengan kata lain, ROE ini menunjukkan seberapa banyak keuntungan yang dapat dihasilkan oleh perusahaan dari setiap satu rupiah yang diinvestasikan oleh para pemegang saham. ROE biasanya dinyatakan dengan persentase (%).

Jadi, ROE dengan rasio 100% berarti bahwa setiap 1 rupiah dari ekuitas pemegang saham dapat menghasilkan 1 rupiah dari laba bersih. Return on Equity atau ROE ini merupakan pengukuran penting bagi calon investor karena dapat mengetahui seberapa efisien sebuah perusahaan akan menggunakan uang yang mereka investasikan tersebut untuk menghasilkan laba bersih. ROE juga dapat dijadikan sebagai indikator untuk menilai efektifitas manajemen dalam menggunakan pembiayaan ekuitas untuk mendanai operasi dan menumbuhkan perusahaannya.

Cara Menghitung ROE (Return on Equity atau Rasio Pengembalian Ekuitas)

Berikut ini adalah rumus dan cara untuk menghitung Return on Equity yang dalam bahasa Indonesia sering disebut dengan Rasio Pengembalian Ekuitas beserta contoh kasus perhitungan ROE ini.

Rumus ROE (Return on Equity)

Rasio Return on Equity (ROE) dihitung dengan membagi laba bersih dengan ekuitas pemegang saham. Berikut ini adalah Rumus ROE :

ROE = Laba bersih setelah Pajak / Ekuitas Pemegang Saham

Pada umumnya, Return on Equity atau ROE ini dihitung untuk pemegang saham biasa (common shareholders). Dalam hal ini, dividen preferen tidak termasuk dalam perhitungan karena jenis dividen ini tidak tersedia untuk para pemegang saham biasa. Dividen Preferen biasanya dikeluarkan dari perhitungan Laba Bersih (Net Income).

Contoh perhitungan ROE (Return on Equity)

Berdasarkan laporan keuangan yang diterbitkan per tanggal 31 Desember 2017, PT. AABB yang bergerak di sektor konstruksi memiliki laba bersih setelah pajak sebesar Rp. 500 juta, total ekuitas para pemegang saham adalah sebanyak Rp. 800 juta. Berapakah rasio pengembalian ekuitas atau Return of Equity (ROE) PT. AABB ?

ROE = Laba bersih setelah Pajak / Ekuitas Pemegang Saham
ROE = Rp. 500.000.000 / Rp. 800.000.000
ROE = 62,5%

Jadi ROE PT. AABB pada tahun 2016 adalah sebesar 62,5%.

 

Analisis dan Penilaian ROE (Return on Equity)

Return on equity atau ROE  mengukur seberapa efisien sebuah perusahaan menggunakan uang dari pemegang saham untuk menghasilkan keuntungan dan menumbuhkan perusahaannya. Tidak seperti rasio pengembalian investasi lainnya, ROE adalah rasio profitabilitas dari sudut pandang investor, bukan dari sudut pandang perusahaan. Dengan kata lain, rasio ini menghitung berapa banyak uang yang dapat dihasil oleh perusahaan bersangkutan berdasarkan uang yang diinvestasikan pemegang saham, bukan investasi perusahaan dalam bentuk aset atau sesuatu yang lainnya.
Baca juga : Pengertian Rasio Profitabilitas dan Jensi-jenisnya.

Tentunya, setiap investor atau pemegang saham menginginkan tingkat pengembalian ekuitas yang tinggi karena rasio pengembalian Ekuitas (ROE) yang tinggi mengindikasikan bahwa perusahaan menggunakan dana investor secara efektif. Pada umumnya, semakin tinggi rasio Return on Equity (ROE) ini, semakin baik. Namun perlu diketahui bahwa rasio ROE ini akan berbeda diantara satu jenis industri dengan jenis industri lainnya. Jadi sebaiknya ROE ini tidak dibandingkan dengan industri yang berbeda karena setiap jenis industri memiliki investasi dan pendapatan yang berbeda-beda.

Jika tidak membandingkan dengan perusahaan lainnya, ROE ini sebenarnya dapat digunakan untuk membandingkan antara satu periode dengan periode lainnya. Sebagian besar Investor akan menghitung dan membandingkannya pada awal periode dengan akhir periode untuk melihat perubahaan pada pengembalian ekuitasnya. Dengan perbandingan per periode ini, investor dapat melacak dan mengetahui perkembangan dan kemampuan perusahaan untuk mempertahankan tren pendapatan yang positif.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*