_ap_ufes{"success":true,"siteUrl":"ilmumanajemenindustri.com","urls":{"Home":"http://ilmumanajemenindustri.com","Category":"http://ilmumanajemenindustri.com/category/dasar-dasar-manajemen/","Archive":"http://ilmumanajemenindustri.com/2017/12/","Post":"http://ilmumanajemenindustri.com/3-tingkatan-manajemen-fungsi-fungsinya/","Page":"http://ilmumanajemenindustri.com/daftar-isi-ilmu-manajemen-industri/","Attachment":"http://ilmumanajemenindustri.com/3-tingkatan-manajemen-fungsi-fungsinya/tingkatan-manajemen/","Nav_menu_item":"http://ilmumanajemenindustri.com/446/","Insertpostads":"http://ilmumanajemenindustri.com/insertpostads/native-ads/"}}_ap_ufee

Teori Lokasi Industri menurut Alfred Weber

Teori Lokasi Industri menurut Alfred Weber – Seorang ahli ekonomi, geografis dan sosiologis Jerman yang bernama Aflred Weber mengemukakan sebuah Teori tentang penentuan Lokasi Industri pada tahun 1909 dalam bahasa Jerman, 20 tahun kemudian pada tahun 1929 diterjermahkan ke dalam bahasa Inggris dan menjadi titik awalnya pemikiran industri modern mengenai studi dan analisis penentuan lokasi industri. Teori Lokasi Industri pada dasarnya merupakan suatu ilmu yang mempelajari tentang lokasi secara geografis serta pengaruhnya terhadap berbagai macam usaha dan kegiatan.
Baca juga : Prinsip Perencanaan Tata Letak Fasilitas Pabrik (Plant Layout).

Teori Lokasi Industri Weber

Teori Lokasi Industri yang dikemukakan oleh Alfred Weber adalah memperhitungkan beberapa faktor spasial (mengenai ruang/tempat) untuk menemukan lokasi yang optimal dan biaya yang minimal untuk pembanguan pabrik. Menurut Alfred Weber, faktor penentu lokasi Industri dapat digolongkan menjadi dua faktor utama yaitu Faktor Regional dan Faktor Aglomerasi/Deglomerasi.

1. Faktor Regional

Setelah melakukan penelitian tentang struktur biaya di berbagai industri, Weber mengambil kesimpulan bahwa biaya produksi bervariasi pada satu tempat dengan tempat lainnya. Oleh karena itu, Industri pada umumnya terlokalisir di tempat ataupun daerah yang biaya produksinya paling rendah (minimum). Menurut Weber, terdapat dua faktor umum regional yang mempengaruhi biaya produksi. Kedua faktor umum regional tersebut diantaranya adalah :

1.1. Biaya Transportasi

Biaya Transportasi memegang peranan yang sangat penting dalam menentukan lokasi industri. Berat barang yang diangkut dan jarak dari pabrik ke pelabuhan atau jarak antara pabrik dan pusat distribusi mempengaruhi biaya transportasi yang harus dikeluarkan. Umumnya, lokasi yang dipilih adalah lokasi dimana bahan baku dan bahan bakar mudah diperoleh.

Weber membagi bahan baku menjadi dua kategori yaitu yang pertama adalah material yang mudah di dapat dimanapun lokasi pabrik tersebut berada sedangkan yang kedua adalah material yang hanya tersedia pada lokasi tertentu saja.

Menurut Weber, Industrinya juga dikelompokan menjadi dua jenis kecenderungan lokasi pabrik/industri berdasarkan dimana bahan bakunya mudah tersedia atau lokasi yang lebih dekat dengan pasar. Industri yang hasil produksinya (produk jadi) lebih ringan dari bahan bakunya setelah melewati berbagai proses produksi dinamakan dengan Industri yang Weight Losing. Pada Industri Weight Losing, lokasi pabrik harus lebih dekat dengan sumber bahan baku karena biaya transportasi bahan baku akan lebih mahal jika dibandingkan dengan biaya transportasi produk jadi menuju ke Market (pasar). Contoh Industi Weight Losing adalah seperti produksi gula (produk jadi) yang lebih ringan dari bahan bakunya yaitu Tebu.

Sedangkan Industri yang hasil produksinya (produk Jadi) lebih berat dari bahan bakunya setelah melewati proses-proses produksi disebut dengan Weigth Gaining. Lokasi pabrik pada industri Weight Gaining sebaiknya diletakan lebih dekat dengan market (pasar) karena biaya transportasi produk jadi lebih mahal jika dibandingkan dengan biaya transportasi bahan bakunya.

1.2. Biaya Tenaga Kerja

Biaya Tenaga Kerja atau labour cost juga merupakan faktor terpenting dalam penentuan lokasi pabrik. Jika lokasi pabrik menguntungkan, namun biaya tenaga kerja kurang baik (mahal), lokasi tersebut juga kurang cocok untuk suatu lokasi industri. Mungkin pada industri tertentu akan lebih cenderung ke lokasi dimana biaya tenaga kerja lebih rendah. Namun pada dasarnya, kondisi ideal untuk suatu lokasi industri adalah lokasi yang memiliki biaya tenaga kerja yang rendah dan biaya transportasi yang rendah juga.

2. Faktor Agglomerasi dan Degglomerasi

Agglomerasi adalah terdapatnya faktor-faktor yang membuat terjadinya pemusatan industri pada lokasi tertentu. Faktor-faktor tersebut diantaranya seperti adanya sekolah-sekolah yang dapat dapat melatih tenaga kerjanya, adanya perusahaan perbankan, perusahaan asuransi, rumah sakit dan fasilitas pendukung lainnya.

Degglomerasi adalah faktor-faktor yang menyebabkan pabrik/industri meninggalkan lokasi tertentu. Faktor-faktor tersebut diantaranya seperti naiknya pajak daerah, berkurangnya tenaga kerja yang terampil, kurangnya tanah untuk industri serta faktor-faktor yang menyebabkan tingginya biaya operasional lainnya.

Location Triangle (Segita Lokasi) Weber

Weber menggunakan istilah Triangle Location (Segita Lokasi) untuk menentukan lokasi terbaik untuk industri atau pabrik yang dianalisis. Berikut ini bentuk Segitiga Lokasinya :

Teori Lokasi Industri / pabrik menurut Alfred Weber

Baca juga : Cara Menentukan Lokasi Pabrik dengan Factor Rating Method.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*