_ap_ufes{"success":true,"siteUrl":"ilmumanajemenindustri.com","urls":{"Home":"https://ilmumanajemenindustri.com","Category":"https://ilmumanajemenindustri.com/category/dasar-dasar-manajemen/","Archive":"https://ilmumanajemenindustri.com/2018/11/","Post":"https://ilmumanajemenindustri.com/pengertian-biaya-produksi-production-cost-cara-menghitung-biaya-produksi/","Page":"https://ilmumanajemenindustri.com/search/","Attachment":"https://ilmumanajemenindustri.com/pengertian-biaya-produksi-production-cost-cara-menghitung-biaya-produksi/biaya-produksi/","Nav_menu_item":"https://ilmumanajemenindustri.com/1289/","Insertpostads":"https://ilmumanajemenindustri.com/insertpostads/1362/"}}_ap_ufee

Pengertian Harga Pokok Penjualan (HPP) dan Cara Menghitung HPP

Pengertian Harga Pokok Penjualan (HPP) dan Cara Menghitung HPP

Pengertian Harga Pokok Penjualan (HPP) dan Cara Menghitung HPP – Harga Pokok Penjualan (HPP) atau dalam bahasa Inggris disebut dengan Cost of Goods Sold (COGS) adalah perhitungan manajerial yang mengukur biaya langsung yang dikeluarkan dalam meproduksi produk yang dijual selama suatu periode. Dengan kata lain, Harga Pokok Penjualan atau HPP adalah jumlah biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk tenaga kerja, bahan dan overhead dalam proses pembuatan produk atau jasa yang dijual ke pelanggan sepanjang suatu periode.

Perlu ditekankan bahwa biaya yang dimasukan ke dalam Harga Pokok Penjualan (HPP) adalah biaya yang berkaitan langsung dengan produk yang dijual. Sedangkan biaya-biaya tidak langsung tidak dapat dimasukan ke dalam perhitungan HPP ini. Tujuan perhitungan HPP ini adalah untuk mengukur biaya sebenarnya dalam meproduksi barang dagangan yang dibeli pelanggan untuk periode tertentu.

Perhitungan Harga Pokok Penjualan atau HPP sangat penting bagi manajemen karena dapat membantu manajemen menganalisa seberapa baik mereka mengendalikan biaya pembelian dan biaya tenaga kerja (upah/gaji). Para Kreditor atau Investor juga dapat menggunakan Harga Pokok Penjualan (HPP) untuk menghitung margin kotor bisnis (gross margin) dan menganalisis berapa persentase pendapatan yang masih tersedia untuk menutupi biaya operasionalnya. Produsen maupun retailer (pengecer) pasti akan mencatat Harga Pokok Penjualan ke dalam Laporan Laba Rugi mereka sebagai beban langsung setelah pendapatan pada periode tertentu. Harga Pokok Penjualan atau HPP kemudian dikurangi dari Total Pendapatan untuk mengetahui Margin Kotornya.
Baca juga : Pengertian Gross Profit Margin (Marjin Laba Kotor).

Rumus Harga Pokok Penjualan (HPP) dan Cara Menghitung HPP

Rumus HPP dihitung dengan cara menambahkan pembelian bersih ke persediaan awal periode tertentu kemudian mengurangkannya dengan persediaan untuk periode tersebut. Brikut ini adalah Rumus Harga Pokok Penjualan (HPP)

HPP = Pembelian Bersih + Persediaan Awal – Persediaan Akhir

Contoh Perhitungan HPP (Harga Pokok Penjualan) untuk Perusahaan Dagang

Sebuah toko ritel yang menjual Mainan Anak-anak yang sedang menyelesaikan laporan keuangan akhir tahunnya dan menghitung jumlah persediaan seperti pada data berikut ini :

Diketahui :

Persediaan Awal = Rp. 200.000.000,-
Pembelian baru = Rp. 500.000.000,-
Persediaan Akhir = Rp. 100.000.000,-

Penyelesaian :

HPP = Pembelian Bersih + Persediaan Awal – Persediaan Akhir
HPP = Rp. 500.000.000 + Rp. 200.000.000 – Rp. 100.000.000
HPP = Rp. 600.000.000,-

Jadi, Toko Ritel Mainan Anak tersebut menjual barang dagangannya sebesar Rp. 600.000.000,- selama tahun ini dan hanya menyisakan barang dengan nilai sebesar Rp. 100.000.000,- pada tanggal 31 Desember.

Informasi ini tidak hanya membantu toko ritel tersebut untuk merencanakan pembelian untuk tahun depan namun juga akan membantunya mengevaluasi biayanya. HPP ini juga dapat memberikan informasi tentang margin penjualan untuk setiap produk apabila dibuat penggolongan untuk setiap kategori produk. Dengan demikian, manajemen dapat mengetahui produk mana yang paling menguntungkan dan menghasilkan uang yang paling banyak.

 

Perhitungan HPP (Harga Pokok Penjualan) untuk Perusahaan Manufaktur

Sedikit berbeda dengan Harga Pokok Penjualan perusahaan dagang, Harga Pokok Perusahaan Manufaktur memerlukan perhitungan yang lebih rumit dengan beberapa tahapan agar hasil perhitungannya lebih akurat dan tepat. Berikut ini adalah beberapa tahapan yang diperlukan untuk menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP) perusahaan manufaktur.

Tahap I : Menghitung Bahan Baku yang digunakan

Bahan baku yang digunakan dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :

Bahan Baku Yang Digunakan = Persediaan Bahan Baku awal + Pembelian Bahan Baku – Persediaan Bahan Baku akhir

Tahap II : Menghitung Biaya Produksi

Biaya Produksi dapat dihitung dengan rumus dibawah ini :

Total biaya produksi = Bahan baku yang digunakan + biaya tenaga kerja langsung + biaya overhead produksi

Tahap III : Menghitung Harga Pokok Produksi

Untuk menghitung Harga Pokok Produksi, diperlukan rumus seperti dibawah ini :

Harga Pokok Produksi = Total biaya produksi + persediaan barang dalam proses produksi awal – persediaan barang dalam proses produksi akhir

Tahap IV : Menghitung Harga Pokok Penjualan

Tahap terakhir adalah menghitung Harga Pokok Penjualan, rumus yang digunakan adalah sebagai berikut  :

HPP = Harga pokok produksi + Persediaan barang awal – persediaan barang akhir

Contoh Perhitungan HPP (Harga Pokok Penjualan) untuk Perusahaan Manufaktur

Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur pembuatan perangkat elektronik memiliki persediaan bahan baku sebesar Rp. 200 juta, barang setengah jadi (barang dalam proses produksi) sebesar Rp. 300 juta dan persediaan Finished Goods (barang jadi) yang siap untuk dijual sebesar Rp. 400 juta di awal tahun 2017 . Di tahun yang sama, perusahaan ini membeli bahan baku sebesar Rp. 900 juta dengan biaya pengiriman sebesar Rp. 50 juta.  Biaya tenaga kerja dan perawatan mesin selama tahun 2017 adalah Rp. 100 juta. Pada akhir tahun 2017, sisa penggunaan bahan baku adalah sebesar Rp. 100 juta, sisa persediaan dalam proses sebesar Rp. 100 juta dan sisa barang jadi produk yang bisa dijual adalah sebesar Rp. 200 juta. Berapakah Harga Pokok Penjualan atau HPP perusahaan tersebut ?

Diketahui :

Persediaan Bahan Baku awal = 200.000.000
Persediaan Barang dalam Proses awal = 300.000.000
Persediaan Barang Jadi awal = 400.000.000
Pembelian Bahan awal = 900.000.000
Biaya Pengiriman = 50.000.0000
Biaya Tenaga Kerja dan Perawatan Mesin = 100.000.000
Persediaan Bahan Baku Akhir = 100.000.000
Persediaan Barang dalam Proses = 100.000.000
Persediaan Barang Akhir = 200.000.000

Penyelesaian

Perhitungan Harga Pokok Penjualan untuk contoh kasus ini harus dihitung melalui 4 tahapan seperti yang disebut sebelumnya.

Tahap I : Menghitung Bahan Baku yang digunakan

Bahan Baku Yang Digunakan = Persediaan Bahan Baku awal + Pembelian Bahan Baku – Persediaan Bahan Baku akhir
Bahan Baku Yang Digunakan = 200.000.000 + (900.000.000 + 50.000.000) – 100.000.000
Bahan Baku Yang Digunakan = 1.050.000.000

Tahap II : Menghitung Total Biaya Produksi

Total biaya produksi = Bahan baku yang digunakan + biaya tenaga kerja langsung + biaya overhead produksi
Total biaya produksi = 1.050.000.000 – 100.000.000
Total biaya produksi = 950.000.000

Tahap III : Menghitung Harga Pokok Produksi

Harga Pokok Produksi = Total biaya produksi + persediaan barang dalam proses produksi awal –persediaan barang dalam proses produksi akhir
Harga Pokok Produksi = 950.000.000 + 300.000.000 – 100.000.000
Harga Pokok Produksi = 1.150.000.000

Tahap IV : Menghitung Harga Pokok Penjualan

HPP = Harga pokok produksi + Persediaan barang awal – persediaan barang akhir
HPP = 1.150.000.000 + 400.000.000 – 200.000.000
HPP = 1.350.000.000

Jadi Harga Pokok Penjualan Perusahaan Manufaktur tersebut adalah Rp. 1.350.000.000,-

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*